- "Buku adalah gudang ilmu, membaca dan bertanya adalah kunci-kuncinya" -
Showing posts with label Akhlak Terpuji. Show all posts
Showing posts with label Akhlak Terpuji. Show all posts

Saturday, December 2, 2017

Peringatan Maulidurrasul 1439 H Bersama Keluarga Besar MI Miftahul Huda Tlogomojo

Sabtu, 2 Desember 2017

Peringatan Maulidurrasul diperingati di MI Miftahul Huda Tlogomojo pada hari sabtu 2 Desember 2017. Meskipun peringatan Maulidurrasul jatuh pada tanggal 1 Desember 2017, tetapi keluarga besar MI Miftahul Huda Tlogomojo baru memperingati ke esokan harinya (hari sabtu) dikarenakan pada tanggal Maulidurrasul dijadikan hari libur nasional oleh pemerintah Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Besar Desa Tlogomojo dan di ikuti oleh segenap dewan guru dan siswa - siswi MI Miftahul Huda Tlogomojo. Adapun yang memimpin pembacaan sholawat adalah Bapak Taufiq Sobri.







Monday, July 18, 2016

Keutamaan Shalat Tahajud

Ibnu Manzhur di dalam kitab lisanul ‘arob menyatakan, pengertian shalat tahajjud adalah shalat sunnah yang dilakukan seseorang setelah ia bangun dari tidurnya di malam hari meskipun tidurnya hanya sebentar.



Adapun hukum dari shalat tahajjud ini adalah sunnah muakaddah. Allah Ta’ala berfirman tentang sifat-sifat hamba-Nya yang beriman, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka” (QS. Al-Furqan: 64).
Allah Ta’ala juga menyatakan, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah Ta’ala”. (QS. adz-dzariyaat 17-18).

Gambaran orang-orang yang sempurna keimanannya” berikut ini, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya sedangkan mereka berdo’a kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap dan mereka menafkahkan sebagian rezqi yang kami berikan kepada mereka tak seorangpun mangetahui apa yang di sembunyikan untuk mereka (dari bermacam macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah: 16-17)

Allah Ta’ala juga berfirman, “(Apakah kamu wahai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya (hanya) orang yang berakal (saja) yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar: 9)

Karena begitu agungnya sholat tahajjud ini, sehingga Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”. (QS. Al-Muzammil: 1-4).


Allah Ta’ala juga menyatakan, “Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al-Israa’: 79)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sujud”. (QS. Qaaf: 40). Begitu pula Rasulullah sangat menganjurkan untuk mengerjakan ibadah itu. Beliau bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan adalah puasa di bulan muharram, dan sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam”. (HR. Muslim).

Keutamaan shalat malam sangat besar karena hal-hal berikut :

1. Besarnya perhatian Nabi untuk shalat malam hingga kaki beliau pecah-pecah. Seperti apa yang telah di tuturkan istri beliau ‘Aisyah -radiyallahu’anha- beliau berkata bahwa Nabi biasa mengerjakan sholat hingga kaki beliau pecah-pecah. ‘Aisyah -radiyallahu’anha- berkata,“Kenapa engkau melakukan hal ini wahai Rasulullah padahal Allah Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau bersabda , “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur”. (HR. Muslim)

Juga dalam hadits Mughiroh, beliau berkata “Pernah Rasulullah berdiri sangat lama (dalam sholat) hingga ke dua kaki beliau membengkak”. Kemudian ada seseorang yang berkata kepada beliau “Bukankah Allah Ta’ala telah mengampuni dosa dosamu yang telah lalu dan akan datang?” Beliau bersabda, “Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang bersyukur”.

2. Sholat malam itu termasuk sebab di tinggikannya derajat seorang hamba di dalam kamar-kamar surga. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Malik Al-Asy’ari, bahwa Nabi bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang nampak bagian luarnya dari dalamnya, dan tampak bagian dalamnya dari luarnya. Allah Ta’ala telah menjadikan kamar-kamar tersebut bagi orang orang yang memberi makan, melembutkan suara, memperbanyak puasa dan mengerjakan sholat malam ketika orang sedang lelap tidur”. (HR Ahmad)

3. Orang yang telah menegakkan sholat malam adalah orang-orang yang telah berbuat ihsan dan berhak mendapatkan rahmat yang besar dari Allah Ta’ala dan surga-Nya. Karena mereka itu adalah, “Orang-orang yang sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir akhir malam meraka memohon ampunan kepada Allah Ta’ala” (Q.S Adz-Dzariyat: 16-18).

4. Allah Ta’ala memuji orang-orang yang selalu menjaga sholat malam dalam kelompok para hamb-hamba yang berbakti dan beriman. Allah Ta’ala menyatakan tentang hamba-hamba yang mulia ini, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka” (QS. Al-Furqan: 64).

5. Orang yang melaksanakan sholat malam dipersaksikan sebagai orang yang memiliki keimanan yang sempurna. Allah Ta’ala mengatakan, “Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Kami itu mereka segera bersujud, seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan tidak pula mereka menyombongkan diri. Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan” (QS. As-Sajdah: 15-16).

6. Orang-orang yang biasa sholat malam adalah orang-orang yang “didengki” (patut membuat kita iri hati kepada mereka yang mengerjakannya karena kebaikan mereka) karena agungnya pahala yang didapat. Pahala tersebut lebih baik dari pada dunia dan seisinya berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Umar , bahwa Rasulullah bersabda,“Tidak boleh hasad kecuali 2 golongan manusia, yaitu orang yang telah Allah Ta’ala beri Al-Qur’an lalu dia membacanya di malam dan siang hari; dan seorang yang telah Allah Ta’ala beri harta lalu dia infaqkan di malam dan siang hari” (HR. Muslim).

Pada asalnya sholat malam boleh dikerjakan di awal waktu malam, di pertengahannya, atau bisa juga dilaksanakan pada akhir waktu malam; dan ini merupakan kemudahan dalam beribadah. Jadi seseorang bisa mengerjakan sholat malam sesuai dengan kemampuannya, dan yang mudah baginya. Akan tetapi waktu yang paling utama untuk mengerjakan sholat malam adalah waktu seper tiga malam terakhir, berdasarkan hadits ‘Amr bin Abasah , bahwa dia pernah mendengar Nabi bersabda,“Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Robbnya adalah dibagian malam yang terakhir. Jika kamu sanggup untuk berdzikir di waktu-waktu itu maka lakukanlah” (HR. Tirmidzi).
 

Wednesday, July 6, 2016

Arti Minal Aidin wal Faizin yang Sebenarnya

Kata-kata minal aidin wal faidzin sudah sangat familiar di telinga kita. Ungkapan ini sering didengar saat hari raya idul fitri tiba. Dan yang mengucapkannya pun tidak hanya kaum muslim saja, bahkan kaum non muslim pun sangat fasih dalam melafalkannya. Apa sih makna dari kata tersebut ?
 
Ternyata sebagian orang kurang tepat dalam menggunakan ungkapan tersebut, ato orang jawa biasa mengatakan "pendono". Mereka beranggapan bahwa kata tersebut sebagai kata permintaan maaf, sehingga minal aidin wal faizin=mohon maaf lahir dan batin. Sangat sering kita jumpai orang yang mengungkapkan tersebut guna meminta maaf, misal "mumpung masih lebaran, minal aidin wal faizain ya mbak,,!!", ato "pa kabar mas,,mianal aidin wal faizin ya,,!!".
 
Kata minal aidin wal faizin sebenarnya bukan budaya arab. Karena pada zaman Rasulullah, ketika masuk idul fitri yang diucapkan adalah "taqobbalallahu minna waminkum,shiyamana wa shiyamakum" yang artinya semoga Allah menerima puasa kami dan kaliyan. Karena orang arab ketika berpisah dengan ramadhan, mereka sangat susah dan hawatir jika puasa 1 bulan menjadi sia-sia. 
 
Lalu apa sebenarnya arti dan maksud minal aidin wal faizin ? kata aidin berasal dari kata 'id yang artinya kembali, sedangkan aidin adalah pelakunya ato orang-orang yang kembali. Sedangkan faizin berasal dari kata fawz yang artinya kemenangan, faizin adalah orang yang menang. Ulama' Indonesia selain menggunakan taqobalallahu mina waminkum siyamana wa siyamakum, ditambah lagi ja'alnallahu minal aidin wal faizin yang artinya semoga Allah menjadikan kita orang2 yang kembali (suci) dan bagian dari orang2 yang menang karena telah melewati ramadhan yang penuh cobaan. Jadi kata minal aidin wal faizin adalah bagian dari do'a, dengan menambahkan ja'alnallahu. Maka dari itu, ungkapan minal aidin wa faizin kurang tepat jika diungkapkan untuk meminta maaf, karna artinya bukan permintaan maaf. Sebaiknya jika ingin meminta maaf cukup dengan mengucapkan "mohon maaf lahir batin", lebih afdol lagi jika diawali dengan do'a "taqobbalallahu minna wa minkum siyamana wa siamakum, wataqobbal ya karim, ja'alnallahu minal aidin wal faizin", baru mohon maaf lahir batin, komplit banget dah.

sumber

Thursday, October 15, 2015

12 Amalan dalam Bulan Muharram

Keutamaan bulan Muharram tidaklah perlu disangsikan lagi. Namun keutamaan itu harus diisi dengan berbagai amalan-amalan yang berbobot, sehingga keutamaan itu benar-benar bernilai. Baik secara individual maupun sosial.


Para ulama sudah mengklasifikasikan jenis amalan yang hendaknya diperbanyak selama bulan Muharram yaitu; 
  1. melakukan shalat, 
  2. berpuasa, 
  3. menyambung silaturrahim, 
  4. bershadaqah, 
  5. mandi, 
  6. memakai celak mata, 
  7. berziarah kepada ulama (baik yang hidup maupun yang meninggal), 
  8. menjenguk orang sakit, 
  9. menambah nafkah keluarga, 
  10. memotong kuku, 
  11. mengusap kepala anak yatim, 
  12. membaca surat al-Ikhlas sebanyak 1000 kali. 
Untuk mempermudah ingatan, sebagian ulama mengawetkannya dalam bentuk nadham yang dinukil As-Syaikh Abdul Hamid dalam kitabnya Kanzun Naja was Surur Fi Ad'iyyati Tasyrahus Shudur 

فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ

صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ

وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ


Ada sepuluh amalan di dalam bulan ‘asyura, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, shlatlah,sambung silaturrahim, ziarah orang alim, menjenguk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bershadaqah dan mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlas 1000 kali.

Kedua amalan ini hendaknya diperbanyak selama bulan muharram, mengingat keutamaannya yang terdapat di dalamnya.

Wednesday, June 10, 2015

Kekebalan Tubuh Meningkat Saat Puasa

Ingin tetap sehat saat berpuasa. Kuncinya sederhanya saja, konsumsi makanan bergizi.

"Untuk makan sahur dianjurkan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat, seperti serat hewani agar perut merasa kenyang lebih lama," kata Diah R Praswati di Banjarmasin.


Ia juga menganjurkan supaya perbanyak minum air, saat puasa tubuh membutuhkan air terutama untuk menjaga suhu tubuh dan mengedarkan sari makanan ke seluruh tubuh, khususnya ke otak. Untuk berbuka puasa sebaiknya makanan tinggi glukosa (gula) agar tubuh, khususnya otak mendapat suplai energi lebih cepat sehingga tubuh akan cepat segar kembali, tambahnya.



Ia menjelaskan berpuasa bermanfaat jika secara benar, karena mampu membakar lemak, menurunkan kadar kolestrol.
Puasa juga bisa mencegah diabetes melitus (DM) karena saat kita berbuka dan sahur, kadar gula darah akan meningkat, tubuh merespon ini dengan memerintahkan hormon insulin untuk menyimpan gula tersebut dalam hati.

Pada siang hari ketika kadar gula menurun, tubuh membongkar cadangan gula tadi sehingga gula dalam darah akan tetap terkontrol dengan baik karena pembakaran energi berlangsung secara perlahan. Karena itu bagi penderita DM tidak membahayakan dengan berpuasa katanya lagi seraya menyebutkan pula puasa bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

Kekebalan tubuh meningkat karena saat berpuasa akan terjadi "penceklik gizi," secara alami tubuh melihat ini sebagai ancaman, oleh sebab itu tubuh akan memacu semua sistem pertahanan diri secara optimal, karena masih ada pasokan gizi dari berbuka puasa dan sahur, sehingga puasa membuat tubuh lebih jarang terkena flu wakau mengurangi makan.

"Manfaat lainnya berpuasa akan memacu detoksifikasi, selain membuat metabolisme lebih efisien dan melatih pengendalian diri, demikian Diah R Praswasti.

Monday, April 13, 2015

Cara Mandi Sesuai dengan yang Diajarkan Rasulullah

Yuk sama-sama belajar cara mandi yg benar.
1. Bermula dari segayung siramkan telapak kaki
2. Segayung betis
3. Segayung paha
4. Segayung perut
5. Segayung pundak
6. Berhentilah sejenak 5-10 detik. Sahabat akan
merasakan seperti uap/angin yang keluar dari ubun-ubun. Bahkan merinding...
Setelah itu, lanjutkan dengan mandi seperti biasa.
Hikmahnya :
Seperti pada gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi? Gelas retak!
Kalau tubuh kita apa yang retak? Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yg terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau bahkan kepala, angin yang harusnya keluar jadi terperangkap. Atau yang paling fatal adalah pecahnya pembuluh darah.
Maka kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba struk. Bisa jadi kita sering masuk angin karena pola mandi kita yg salah. Bisa jadi kita sering migrain karena pola mandi yang salah.
Pola mandi ini baik bagi semua umur terutama yang punya sakit diabetes, hypertensi, kolesterol dan migrain.
Semoga bermanfaat dan tetap jaga kesehatan.

Tuesday, December 2, 2014

Bersedekah Di Jalan Allah Tidak Mengurangi Harta



Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah dan ucapan yang paling bermanfaat adalah ucapan yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits yang shahih dari Rasulullah yang merupakan wahyu Allah.

Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuura: 52).

Kisah berikut ini patut menjadi renungan bagi orang-orang yang beriman tentang keutamaan bersedekah di jalan Allah :

Dari ‘Aisyah bahwa keluarga Rasulullah pernah menyembelih seekor kambing, kemudian disedekahkan kepada orang-orang miskin, lalu Rasulullah bertanya: “Apa yang tersisa dari (daging) kambing tersebut?”. 
‘Aisyah menjawab: “Tidak ada yang tersisa/tertinggal darinya kecuali (bagian) bahu (dari) kambing tersebut”. Maka Rasulullah bersabda: “(Itu berarti) semua (daging) kambing tersebut tertinggal (tetap dan kekal pahalanya) kecuali (bagian) bahunya”

Renungkanlah nasehat agung dari Nabi yang mulia ini! 
Bagaimana beliau menjadikan harta yang disedekahkan di jalan Allah itulah yang kekal dan menetap pahala kebaikannya bagi manusia, meskipun secara kasat mata harta tersebut berkurang.

Ini merupakan penjabaran makna firman-Nya:
“Apa saja yang ada di sisimu (wahai manusia) akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal” (QS an-Nahl: 96)[2].

Pada saat orientasi pandangan mayoritas manusia hanya terbatas pada perkara-perkara lahir yang nampak dalam pandangan mereka, sebagai akibat dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka. Allah berfirman:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” 
(QS ar-Ruum:7).

Oleh karena itu, mereka menilai dengan pemikiran materialistis bahwa sedekah dan infak akn mengurangi bahkan menghabiskan harta. Mereka lupa bahwa Allah yang di tangan-Nyalah segala perbendaharaan langit dan bumi

Allah berfirman:
“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS Sabaa’:39).

Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat.

Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah bersabda:
“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya”.

Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hal-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata”

Maka arti yang benar dari hadits di atas adalah tambahan keberkahan harta di dunia dan ganjaran pahala yang berlipat ganda di akhirat nanti.

Cukuplah ini sebagai motivasi bagi orang-orang yang beriman yang meyakini perkara yang gaib (tidak tampak di mata mereka), berupa balasan kebaikan di surga dan ancaman siksa neraka di akhirat kelak.

Inilah salah satu sifat utama orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah , sebagaimana firman-Nya:

“(Orang-orang yang bertakwa yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung” (QS al-Baqarah: 3-5).

Rasulullah mengisyaratkan makna ini dalam sabda beliau: “Lindungilah (dirimu) dari (siksa) Neraka (dengan bersedekah) walaupun (hanya) dengan sepotong kurma, kalau kamu tidak mendapati sepotong kurma maka dengan kalimat (perkataan) yang baik”[6].

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi dalam kebaikan bagi semua orang yang membacanya.

By : Abdurahman


 
Terima Kasih atas kunjungan Saudara... Semoga bermmanfaat ^_^